MAKALAH
PERADABAN ISLAM
PADA MASA DAULAH BANI UMAYAH
Disusun
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam
Dosen
Pengampu:
SYARKAINI,
S.H., M.E.
DISUSUN
OLEH
KELOMPOK
2
|
1. Syafa Elmania
Rahmadani |
(0101.25.0039) |
|
2. Putri Nurhasanah |
(0101.25.0050) |
|
3. Uswatun Nisa |
(0101.25.0019) |
|
4. Saskia Kurnia
Fathonah |
(0101.25.0031) |
|
5. Yoga Pratama |
(0101.25.0021) |
FAKULTAS
TARBIYAH DAN TAMADDUN MELAYU
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN ISLAM
INSTITUT AGAMA
ISLAM
TAFAQQUH FIDDIN
DUMAI
2025
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Peradaban Islam pada Masa Daulah Bani
Umayyah” dengan baik dan tepat waktu. Shalawat serta salam semoga selalu
tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta para pengikutnya
hingga akhir zaman.
Makalah ini disusun sebagai salah
satu bentuk upaya untuk memahami lebih dalam mengenai perkembangan peradaban
Islam pada masa Daulah Bani Umayyah, yang dikenal sebagai salah satu periode
penting dalam sejarah Islam. Pada masa inilah Islam mengalami kemajuan pesat
dalam berbagai bidang, baik politik, sosial, ekonomi, maupun kebudayaan. Oleh
karena itu, pembahasan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih
komprehensif mengenai kontribusi Daulah Bani Umayyah terhadap perkembangan
dunia Islam
Dalam penyusunan makalah ini,
penulis berusaha mengumpulkan berbagai sumber yang relevan agar pembahasan
dapat tersusun secara sistematis dan ilmiah. Meskipun demikian, penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi isi maupun
penyajiannya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca
sangat penulis harapkan demi penyempurnaan karya tulis ini di masa yang akan
datang.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen
pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan selama proses penyusunan
makalah ini,akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
penulis maupun pembaca dalam memperluas wawasan tentang sejarah dan peradaban
Islam, khususnya pada masa Daulah Bani Umayyah. Semoga segala usaha yang
dilakukan menjadi amal baik yang diridhai oleh Allah SWT.
Dumai, 05
November 2025
Kelompok 2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
1.2. Tujuan
1.3. Rumusan Masalah
BAB II. PEMBAHASAN
2.1. Sejarah Berdirinya Daulah Bani Umayah
2.2. Khalifah yang Memimpin Pada Masa Daulah Bani Umayah
2.3. Kemajuan yang dicapai Pada Masa pemerintahan Daulah Bani Umayah
2.4. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kemunduran Daulah Bani Umayah
BAB III. PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Sejarah
peradaban Islam merupakan perjalanan panjang yang penuh dengan dinamika
politik, sosial, dan keagamaan. Setelah wafatnya Rasulullah SAW, umat Islam
dipimpin oleh para Khulafaur Rasyidin yang menegakkan pemerintahan berdasarkan
prinsip musyawarah dan keadilan. Namun seiring berkembangnya wilayah Islam yang
semakin luas, muncul kebutuhan untuk membentuk sistem pemerintahan yang lebih
terorganisir dan mampu mengatur kekuasaan secara efektif. Dari sinilah muncul
Daulah Bani Umayah, yang menjadi salah satu dinasti besar dalam sejarah Islam.
Daulah
Bani Umayah didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan pada tahun 661 Masehi
setelah berakhirnya masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dinasti ini
menjadikan Damaskus sebagai pusat pemerintahan dan memperkenalkan sistem
monarki turun-temurun dalam kekuasaan Islam. Perubahan sistem ini membawa
dampak besar terhadap tatanan politik dan sosial masyarakat Muslim.
Pemerintahan Bani Umayah dikenal kuat dan stabil, sehingga mampu memperluas
wilayah Islam hingga mencapai Spanyol di barat dan India di timur.
Pada
masa ini pula, peradaban Islam mengalami kemajuan pesat di berbagai bidang.
Ilmu pengetahuan, arsitektur, administrasi, dan kebudayaan tumbuh dengan pesat
di bawah perlindungan para khalifah. Banyak ilmuwan dan cendekiawan muncul pada
masa ini, dan nilai-nilai Islam mulai berinteraksi dengan kebudayaan lain
seperti Persia, Romawi, dan Yunani. Hal ini menjadikan Daulah Bani Umayah
sebagai fondasi penting bagi perkembangan peradaban Islam di masa-masa
selanjutnya.
Namun,
di balik kejayaan tersebut, Daulah Bani Umayah juga menghadapi berbagai
tantangan dan konflik internal. Perbedaan pandangan politik, ketegangan antara
kelompok Arab dan non-Arab (mawali), serta pertikaian dalam suksesi
kepemimpinan menjadi penyebab utama munculnya instabilitas. Situasi ini secara
perlahan melemahkan kekuasaan Bani Umayah dan membuka jalan bagi berdirinya
Daulah Abbasiyah.
Melihat
perjalanan panjang Daulah Bani Umayah, penting bagi mahasiswa dan umat Islam
untuk memahami sejarahnya secara mendalam. Dengan mempelajari proses berdiri,
kepemimpinan, kemajuan, serta faktor kemundurannya, kita dapat mengambil
pelajaran berharga tentang bagaimana peradaban Islam berkembang dan menghadapi
tantangan zaman. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas secara ringkas
namun menyeluruh mengenai sejarah peradaban Islam pada masa Daulah Bani Umayah.
1.2. Rumusan Masalah
a.
Bagaimana
sejarah berdirinya Daulah Bani Umayah?
b.
Siapa
saja khalifah yang memimpin pada masa Daulah Bani Umayah?
c.
Bagaimana
kemajuan yang dicapai pada masa pemerintahan Daulah Bani Umayah?
d.
Apa
faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran Daulah Bani Umayah?
1.3. Tujuan Penulisan
a.
Mengetahui
sejarah berdirinya Daulah Bani Umayah.
b.
Mengenal
para khalifah yang memimpin pada masa Daulah Bani Umayah.
c.
Mempelajari
berbagai kemajuan yang dicapai selama masa pemerintahan Bani Umayah.
d.
Memahami
faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dan runtuhnya Daulah Bani Umayah.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. Sejarah
Berdirinya Bani Umayah.
Nama
Dinasti Bani Umayah diambil dari Umayah bin Abd AlSyam, kakek Abu Sufyan.
Umayah segenerasi dengan Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad Saw dan Ali bin
Abi Thalib. Dengan demikian, Ali bin Abi Thalib segenerasi pula dengan
Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ali bin Abi Thalib berasal dari keturunan Bani Hasyim
sedangkan Mu’awiyah berasal dari keturunan Bani Umayah. Kedua keturunan ini
merupakan orang-orang yang berpengaruh dalam suku Quraisy. Cikal bakal
berdirinya dinasti Umayyah dimulai ketika masa khalifah Ali. Pada saat itu
Mu’awiyah yang menjabat sebagai gubernur di Damaskus yang juga masih kerabat
Utsman menuntut atas kematian Ustman. Dengan taktik dan kecerdikannya, ia
mempermainkan emosi umat islam. mu’awiyah tidak mau menghormati ali, dan
menyudutkannya pada sebuah dilema: menyerahkan para pembunuh Utsman, atau
menerima status sebagi orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu,
sehingga ia harus diturunkan dari jabatan khalifah. Dari perselisihan tersebut
terjadilah peperangan antara Ali dan Mu’awiyah. Peperangan tersebut dikenal
sebagai perang Siffin, karena terjadi di daerah bernama Siffin. Dalam
pertempuran itu hampir-hampir pasukan Muawiyyah dikalahkan pasukan Ali, tapi
berkat siasat penasehat Muawiyyah yaitu Amr bin 'Ash, agar pasukannya
mengangkat mushaf-mushaf Al Qur'an di ujung lembing mereka, pertanda seruan
untuk damai dan melakukan perdamaian (tahkim) dengan pihak Ali dengan strategi
politik yang sangat menguntungkan Mu’awiyah.
Bukan saja perang itu berakhir dengan Tahkim Shiffin
yang tidak menguntungkan Ali, tapi akibat itu pula kubu Ali sendiri menjadi
terpecah dua yaitu yang tetap setia kepada Ali disebut Syiah dan yang keluar
disebut Khawarij. Sejak peristiwa itu, Ali tidak lagi menggerakkan pasukannya
untuk menundukkan Muawiyyah tapi menggempur habis orang-orang Khawarij, yang
terakhir terjadi peristiwa Nahrawan pada 09 Shafar 38 H, dimana dari 1800 orang
Khawarij hanya 8 orang yang selamat jiwanya sehingga dari delapan orang itu
menyebar ke Amman, Kannan, Yaman, Sajisman dan ke Jazirah Arab. Pada Ali
terbunuh oleh seorang anggota khawarij. Kedudukan Ali sebagai khalifah kemudian
dijabat oleh anaknya Hasan selama beberapa bulan. Namun, karena Hasan ternyata
lemah, sementara Mu’awiyah semakin kuat, maka Hasan membuat perjanjian damai.
Perjanjian ini dapat mempersatukan umat islam Kembali dalam satu kepemimpinan
politik, di bawah Mu’awiyah ibn Sufyan. Dengan meninggalnya ali(661),
pemerintahan yang dapat kita sebut sebagai periode ke khalifahan
republic-dimulai sejak ke khalifahan abu Bakar (623)-telah berakhir. Empat
khalifah pada masa ini dikenal oleh para sejarawan Arab sebagai alRasyidin.
Pendiri khalifah kedua, Mua’awiyah dari keluarga Umayyah, menunjuk putranya
sendiri, Yazid, sebagai penerusnya sehingga ia menjadi seorang pendiri sebuah
dinasti. Dengan demikian, konsep pewarisan kekuasaan mulai diperkenalkan dalam
suksesi kekhalifahan, dan sejak itu tidak pernah sepenuhnya ditinggalkan.
Kekhalifahan Umayyah adalah dinasti (Mulk) pertama dalam sejarah islam.
2.2.
Khalifah yang Memimpin Pada Masa Daulah Bani Daulah Umayah
Dalam
rentang waktu pemerintahan sekitar 90 tahun, pemerintahan dinasti bani umayah
yang menganut system monarki,terus berkembang dibawah pemerintahan raja raja
yang berasal dari garis keturunan umayah bin Abd syams.
Berikut
nama-nama ke 14 khalifah Dinasti Bani Umayyah yang berkuasa:
1. Muawiyah
bin Abi Sufyan (41-60 H/661-680 M)
2. Yazid
bin Muawiyah (60-64 H/680-683 M)
3. Muawiyah bin Yazid (64-65
H/683-684 M)
4. Marwan
bin Hakam (65-66 H/684-685 M)
5. Abdul
Malik bin Marwan (66-86 H/685-705 M)
6. Walid
bin Abdul Malik (86-97 H/705-715 M)
7. Sulaiman
bin Abdul Malik (97-99 H/715-717 M)
8. Umar bin
Abdul Aziz (99-101 H/717-720 M)
9. Yazid
bin Abdul Malik (101-105 H/720-724)
10. Hisyam
bin Abdul Malik (105- 125 H/724-743 M)
11. Walid
bin Yazid (125-126 H/743-744 M)
12. Yazid
bin Walid (126-127 H/744-745 M)
13. Ibrahim
bin Walid (127-127 H/745-745 M)
14. Marwan bin Muhammad (127-132
H/745-750 M)
Dari empat belas khalifah Bani
Umayyah, dengan berbagai tipikal kepemimpinan masing-masing khalifah, telah
berhasil mengantarkan Islam mencapai puncak peradabannya, namun ada beberapa
khallifah yang memiliki peran cukup besar dalam catatan para ahli sejarah.
2.3. Kemajuan yang dicapai Pada
Masa Daulah Bani Umayah
Sebagaimana
yang telah diuraikan ditas pada zaman Dinasti Bani Umayyah, kerajaan
Islam mencapai perluasan yang terbesar, merentang dari
pantai-pantai lautan Atlantik dan pegunungan Pyrenia hingga sungai
Indus dan perbatasan Cina, seluas hamparan yang sulit ditemukan
bandingannya pada zaman dahulu dan yang tersusul pada masa kini
hanya oleh kerajaan Inggris dan Rusia.
Keberhasilan
Dinasti Bani Umayyah ini bukan hanya di bidang perluasan
kekuasaan Islam tetapi juga membawa Intonasi-intonasi di bidang
politik, ekonomi, kebudayaan dan lain-lain sehingga terbukti dengan
keberhasilannya dalam membangun Imperium sekaligus menempatkan
dirinya sebagaI
negara adil
kuasa pada masanya.
a. Bidang
Administrasi Pemerintahan
Pada masa Khulafa al-Rasyidin
pemerintahan dapat dikatakan
pemerintahan yang bersifat
demokratis, sedangkan pada masa
dinasti Bani Umayyah sifat demokratis tidak kelihatan lagi. Selanjutnya
pada masa khulafa al-Rasyidin seperti yang dikatakan sejarawan,
bahwa belum terpisah antara urusan agama dengan urusan
pemerintahan.
Pada
masa Dinasti Bani Umayyah mengalami penafsiran baru. Hal ini
dapat dipahami karena kebanyakan Khalifah Bani Umayyah bukan orang
ahli dalam soal-soal agama walaupun ada beberapa orang
khalifah yang ahli soal agama tetepi masih merujuk dengan sistem
yang telah dilaksanakan oleh khalifah yang pertama Mu’awiyah. Maka itu masalah
keagamaan diserahkan kepada
ulama yang terdiri dari Qadhi atau Hakim. Pada umumnya para Qadhi
atau Hakim tersebut al-Qur’an dan Hadis Nabi sebagai Sejak Mu’awiyah
menunjuk anaknya sebagai penggantinya menjadi khalifah
maka lahirlah bentuk kerajaan dalam Islam yang seterusnya
berlanjut pada khalifah-khalifah selanjutnya.
Kemudian
dalam hal administrasi pemerintahan dibentuklah beberapa
Diwan (depertemen) yang terdiri dari antara lain:
a). Diwan
Rasail: berfungsi mengurus surat-surat negara, Diwan ini ada dua
macam (1)
Sekretariat negara pusat
(2)
Sekretariat
provinsi.
b). Diwan
al-Kharaj: Diwan ini bertugas mengurus pajak. Diwan ini dibentuk
tiap propinsi yang dikepalai oleh Shahib al-Kharaj.
c). Diwan
al-Barid: Diwan ini merupakan badan intelijen yang bertugas
sebagai penyampai rahasia daerah pada pemerintahan pusat.
d). Diwan
al-Khatam. Mu’awiyah merupakan orang perama yang mendirikan Diwan Khatam ini sebagai departemen
pencatatan.
Setiap peraturan yang dikeluarkan khalifah harus disalin dalamsuatu
register, kemudian yang asli harus di segel dan dikirim ke alamat
yang dituju.
b. Bidang
Ekonomi
Berbicara
tentang kondisi ekonomi pada masa Dinasti Bani Umayyah,
keberadaan Baitul Mal merupakan bukti adanya perkembangan
ekonomi pada masa itu. Eksistensi Baitul mal pada masa
Dinasti Bani Umayyah sangat berperan sekali di sebabkan penaklukkan
yang di lakukan sangat luas sekali, ke Barat sampai ke Afrika
Utara Andalusia dan ke timur sampai ke India dan ke perbatasan
Cina. Daerah yang ditaklukkan ini terkenal dengan kekayaan
dan kesuburan tanahnya. Khalifah dan para pejabat Negara serta militer waktu
itu banyak
memperoleh harta rampasan perang dan tanah-tanah yang subur dari
tuan-tuan tanah besar Bizantium yang telah melarikan diri
bersama tentara kerajaan yang telah dilumpuhkan. Pemerintahan
memperoleh pajak-pajak dari daerah-daerah yang ditaklukkan
tersebut.
Pemasukan
keuangan negara berupa Kharaj,
Jizyah, Usyur zakat dan lainnya. Ada tanah diolah dengan memakai
tenaga buruh dari para petani, ini termasuk sumber pemasukkan
pokok keuangan negara. Sistem sewa (leases) ini ditirukan
dari sistem emphyteusis dari Bizantium. Sistem ini dikenal
dengan sebutan qatasi dan sawafi. Cara pengelolahan sewa tanah
ini diserahkan pada diwan sawafi yang telah dibentuk pada masa
Bani Umayyah ini.
Jumlah sawafi dan qatasi ini berkembang cepat, kemudian hak sewa
tersebut dijual kepada para famili penguasa saat itu, oleh karena itu lahirlah
para borjuis yang Islami atau orang kaya Islam baru.
Perkembangan
ini dapat mempengaruhi investasi pemasukannegara yang berkembang dari pertanian
kepada perdagangan, kondisi seperti ini akan berpengaruh besar dalam
perekonomian rakyat dan negara. Pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan
dicetak uang sebagai alat tukar yang dibuat dari emas dan perak, serta dihiasi
dengan khat ayat Al-Qur’an. Mata uang ini berbeda dengan kerajaan Bizantium
ataupun dirham kerajaan Persi. Percetakan uang kembali sebagai ciri khas bagi
khalifah bani Umayyah pada masa pemerintahan Abdul Malik ini menunjukkan
banyaknya orang
kaya melimpah ruah di kota-kota bahkan di padang pasir.
Melihat
kondisi perekonomian yang demikian dapat dikatakan, bahwa perekonomian pada
saat itu sangat baik dan maju. Hal seperti dikatakan oleh Philip K. Hitti
sebagai berikut: “Suatu kenyataan yang dapat dikatakan bahwa suasana dan corak
umum dari kehidupan kota Damsik dalam abad kedelapan, tidak banyak berbeda
dengan kehidupan yang didapati sekarang, dapat dilihat seseorang penduduk
Damsik yang berpakaian celana yang longgar, sepatu merah yang lancip dan serban
yang besar, yang berjalan di lorong-lorong yang sempit dan tertutup dari atas,
di sana sini dapat dilihat seseorang penduduk yang menunggangi kuda, berpakaian
sutera putih yang bernam “aba” dan bersenjatakan pedang dan tombak. Para
penjual limun dan jaudah-jaudah bersitegang urat leher untuk menyaingi hingar
yang disebabkan orang-orang berlalu lalang dan keledai unta yang membawa muatan
berbagai hasil gurun pasir dan tanah-tanah subur. Nama Ahallah (Bani) Umayyah
tersebut mengadakan suatu sistem pembagian air dalam kota Damsik, yang pada
zaman it tidak mempunyai bandingan di dunia Timur yang kini masih terpakai. Dengan
gambaran yang diberikan di atas, kita tahu begitu besarnya kemajuan di bidang
ekonomi masa Bani Umayyah yang menjadikan Islam sebagai kekuatan adi daya di
masa itu.
c. Bidang
Politik Kenegaraan
Realitas
sejarah mengatakan bahwa selama 91 tahun kekuasaan Bani
Umayyah telah memantapkan kedudukan Negara Islam sebagai Negara
adikuasa yang merupakan “pelanjut” dari kekuasaan nabi Muhammad
dan Khulafaur Rosyidin.
Bentuk dasar Negara Islam tidak disangsikan telah ditetapkan oleh Umar,
yang membangunnya di atas pondasi yang diletakkan Muhammad,
tetapi sebagian strukturnya masih diciptakan dan dikembangkan
dan ini telah berlangsung di bawah pemerintahan Dinasti Umayyah.
Sedangkan
peristiwa paling penting dalam bidang politik kenegaraan yang terjadi pada masa
pemerintahan Bani Umayyah yang merupakan titik pangkal kemajuan selanjutnya
adalah peristiwa yang dikenal dengan “Tahun Persatuan Umat Islam” (‘Amul
Jama’ah). ‘Amul jama’ah adalah bersatunya umat Islam kepada kekuasaan
Mu’awiyah, sehingga peristiwa ini merupakan pembuka jalan untuk menyusun
kekuasaan baru umat Islam setelah terjadi perpecahan antara Ali dan Mu’awiyah.
Dan pada saat inilah Mu’awiyah dipercaya umat Islam secara mayoritas) untuk
menyebarkan Islam ke penjuru dunia. Dengan peristiwa ini, maka Mu’awiyah
berhasil mengkosolidasikan situasi dalam negeri dan setelah berhasil di dalam
negeri, maka segera berusaha mengadakan ekspansi dan perluasan wilayah.
d. Ilmu Pengetahuan
Pengetahuan yang berkembang pada
masa daulah Umayyah ini adalah ilmu-ilmu agama ( nagliyah ), seperti ilmu
qira'at, ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu bahasa ilmu kalam ilmu
tasawuf dan ilmu arsitektur.
·
Ilmu
Tahsin
pada masa awal Islam ilmu tafsir
belum dibutuhkan karena umat Islam dapat mengerti apa yang dimaksud oleh setiap
ayat Alquran namun ketika wilayah Islam sudah meluas dan orang-orang bukan Arab
telah menganut agama Islam mulai dirasakannya pedoman berdasarkan Alquran.
beberapa orang sahabat seperti Ali bin Abi Tholib Abdullah bin Abbas Abdullah
bin ma'ut Ubay bin Khattab menafsirkan Alquran sesuai dengan apa yang mereka
dengar dari nabi.
mereka ini dipandang sebagai
pendiri ilmu tafsir. untuk tafsir Alquran pada awal Islam dikenal dengan tafsir
di Al Mansur yaitu menafsirkan Alquran didasarkan pada yang mereka dengar dari
nabi dan sahabat-sahabat senior atau dikenal dengan tafsir bi alriyah yaitu
menafsirkan ayat Alquran berdasarkan pada riwayat. tafsir ini mengalami
perkembangan di masa daulah Abbasiyah, tafsir tafsir telah tersusun secara
sistematis menurut urutan ayat.
·
Ilmu Hadits
hadis sebagai sumber kedua ajaran
Islam pada mulanya belum ditulis seperti Alquran karena dikawatirkan bercampur
bahwa dengan Alquran. karena itu nabi melarang menulis sesuatu darinya selain
Alquran. pemeliharaan hadis oleh para sahabat dilakukan melalui hafalan
pembukaan hadis untuk pertama kali dilakukan oleh Khalifah Umar bin abd al-
Aziz di awal abad ke-2 Hijrah. dalam mengumpulkan hadis dan para penghafal
hadits diadakan suatu metode yang disebut Isnad yaitu membahas persambungan
hadits. selain itu digunakan pula metode al- Jarh wa al- ta'dil yang membahas
asal usul penghafal hadits.
·
Ilmu
fiqih
fiqih belum dikenal sebagai ilmu
pada awal Islam karena pada waktu itu semua persoalan yang dihadapi kaum
muslimin dapat dinyatakan langsung kepada nabi. tetapi setelah rasulullah wafat
sementara daerah kekuasaan Islam semakin luas dan problem yang dihadapi umat
semakin banyak memaksa kaum muslimin menggali hukum-hukum dari ayat-ayat
Alquran dan hadis dengan berijtihad untuk mendapatkan hukumannya.
·
Ilmu
kalam
Di antara tokoh-tokoh ulama ilmu
kalam adalah washil bin Atha, Abu huzail Al jubai, dan Al Najm dari kelompok
mu'tazilah. Hasan Abu Hasan Al asyra'i dan hujjah assalam Iman Ghazali dari
kelompok Sunni
·
Ilmu
Tasawuf
Di antara tokoh-tokoh yang terkenal
dalam ilmu tasawuf ini adalah Hasan Basri rabiah Al adawiyah, Abu Yazid Al
Bustami dan Jalaludin Al Rumi. sementara ilmu umum seperti ilmuwan filsafat
ilmu pasti ilmu astronom musik kedokteran kimia dan lain-lain baru berkembang
pesat bersama dengan ilmu aqliyah di masa daulah Abbasiyah.
e. Sains dan
Peradaban
Pada masa
Dinasti Bani Umayyah merupakan benih yang ditebarkan atas pohon ilmu dan
peradaban Islam, tetapi ia berbunga dan berbuah pada masa Daulah Abasiyyah.
Pada masa Dinasti Bani Umayyah umumnya mempunyai perkumpulan kultur yang
berbeda dari daerah yang ditaklukkan dan dikuasai, kemudian beragama kultur
tersebut mempengaruhi kultur Islam pada bagian terbesar abad XIV sejarah Islam,
menjadi bukti sepanjang periode Daulah Bani Umayyah Umat Islam telah menyadari
elemn-elemn yang bermanfaat dan sehat dari kultur yang bersumber dari Persia,
Yunani dan Siria, ditambah dengan daerah-daerah besar pada saat itu yang telah
ditaklukkan.
Sumber
kultur Islam dan kemajuan materil yang sesungguhnya adalah pada masa Dinasti
Bani Umayyah dengan cara menekuni dengan asyik akan ilmu-ilmu agama,
Lexikografi (menyusun kamus MJI), paramasastra dan penulisan sejarah menjadi
titik tumpuan babak-babak intelektual pada masa sesudahnya. Di antara Ilmu
Pengetahuan yang bukan ilmu keagamaan juga dikembangkan seperti ilmu
pengobatan, ilmu hisab dan sebagainya mereka mengususkan menterjemahkan
buku-buku yang berbahasa latin yang berkembang dari Yunani diterjemahkan dalam
Bahasa Arab.
Babak lain yang penting dalam periode ini adalah
mengalihkan bahasa catatan dari bahasa latin ke dalam bahasa Arab di Damsyik
dari bahasa pahlawi ke dalam bahasa Arab, termasuk juga pencetakan uang
bertulisan Arab. Hal ini seakan terlihat sebagai Arabisasi, tetapi dari satu
sisi ini dapat mempengaruhi perkembangan peradaban Umat Islam Masa Dinasti bani
Umayyahtersebut. Sedangkan aspek material kehidupan industri
memperolehrangsangan yang kuat sepanjang Dinasti Bani Umayyah dan terjadi
hubungan antara Umat Islam ke Timur dank ke Barat.
Kemajuan
yang dimiliki oleh Dinasti Bani Umayyah dipengaruhi penaklukan-penaklukan
daerah yang penuh kultur, daerah yang subur sehingga membawa dampak positif
kemajuan di bidang pemerintahan dan administrasi, ekonomi dan perdaban Dinasti
Bani Umayyah.
Pembangunan
sains dan peradaban ini banyak mengaloborasi dari daerah-daerah yang
ditaklukannya, terutama dua Negara besar, bizantium (395 – 1453) dan Persia
(549 SM – 641 M), berikut ini gambaran kedua Negara besar tersebut:
1. Bizantium
(395 – 1453 M)
Negara
Bizantium sejak berdirinya dikembangkan oleh kjaisrakaisarnya yang bikjasana
dan perkasa. Setelah Negara Romawi Barat runtuh, Bizantium dapat menguasai
sebagian besar daerah bekas romawi barat sehingga Bizantium menjadi Negara yang
besar dan adikuasa. Hanya negara Persia lah yang dapat menyainginya. Puncak
kejayaan Bizantium adalah pada masa kaisar Yustiniaus (527 -565 M).Ia
bercita-cita hendak menghidupkan kembali kebesaran Romawi lama.
Untuk
wewujutkan cita-cita itu,ia melakukan penahlukan - penahlukan kebeberapa Negara
yang subur dan setrategis seperti Italia, Afrika, utara,
Etoipia,syam,Palestina, Antiokia, dan Asia kecil. Di daerah
–daerah jajahan tersebut dikembangkan pertanian, pertukangan dan bermacam –
macam perusahaan dan hasilnya dibawa ke Kostatinopel, dikeluarkan juga
ketentuan – ketentuan yang berhubungan dengan hokum, gereja dan istana. Setalah
penakhlukan di wilayah barat, ia beralih ke Persia di sebelah timur. Oleh
karena itu terjadilah peperangan yang berkepanjangan dengan Negara Persia.
2. Persia
(549 – 651 M)
Wilayah
Negara Persia meliputi wilayah yang terbentang dari sungai Dajlah (Trgris) di
sebelah barat sampai sungai Sing (Indus) di sebelah timur. Daerah ini merupakan
suatu daratan tinggi yang dikelilingi pegunungan Kaukakus dan Elbuz di sebelah
utara, Hindukush di timur laut Kishar di sebelah tenggara, dan Kurdistan di
sebelah Barat laut. Ada beberapa dinasti dalam Negara Persia, namun yang
berhadapan dengan Negara Islam adalah dinasti Sasanid (226 – 641 M). kekaisaran
Sasanid inilah merupakan adikuasa yang berdiri di samping Bizantium. Yang
paling domiinan di persi adalah bidang militer. Dalam bidang ini sudah dibentuk
suat dewan (parlemen) khusus. Dengan cara ini terbentuklah tentara-tentara yang
terdidik dan terlatih secara disiplin, yang siap melakukan tugas kapanpun.
Dengan kekuatan yang demikian dilakukan penyerangan ke daerah kekuasaan
Bizantium pada tahun 541, yakni terhadap daerah-daerah Syiria, Anthokia, dan
Asia kecil.Namun ekspansi Persia tersebut dapat ditahan oleh Bizantium.
Peperangan ini terjadi selama 20 tahun (541-561) untuk merebut daerah
setrategis dan potensial.
Dari
sisi perekonomian, Persia juga sangat diperhatikan oleh para kaisar. Sistem
perpajakan diatur dengan baik, demikian juga perbaikan sarana-sarananya seperti
jalan dan lain-lainnya. Dengan demikian Negara Persia di samping mempunyai
wilayah yang sagat luas, juga mempunyai tatanan ekonomi yang maju dan kekuatan
militer yang hebat. Dari kedua Negara inilah Islam banyak mengambil peradaban,
pengetahuan bahkan ilmu pemerintahan bahkan ilmu pemerintahan yang terkait
dengan pembangunan Negara.
2.4 Faktor Faktor yang Menyebabkan
Kemunduran Daulah Bani Umayah
Ada beberapa faktor yang menyebabkan dinasti Bani
Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran, antara lain adalah:
1.
Sistem
pergantian khalifah yang sebelumnya menggunakan asas dan sistem musyawarah,
diganti menjadi sistem monarki atau kerajaan, membuat persaingan tidak sehat
dalam memperebutkan tampuk kepemimpinan.
2. Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah yang tidak terlepas dari konflik-konflik pada masa Ali. Menimbulkan oposisi dari golongan Syiah dan Khawarij yang terus menerus merongrong kekuasaan Bani Umayyah.
3.
Adanya
pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan
(Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, semakin meruncing,
sebagian besar golongan mawali (non Arab) terutama di Irak tidak setuju dengan
status mawali yang menggambarkan suatu inferioritas. perselisihan ini
mendahului kejatuhan dinasti ini dan dampaknya mulai dirasakan pada tahun-tahun
berikutnya di berbagai tempat yang berbeda.14
4. Lemahnya pemerintahan Bani Umayyah disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana. Setelah kekhalifahan Hisyam yang mencapai puncak kesuksesan khilafah Bani Umayyah, khalifah penerusnya adalah penguasapenguasa yang bermoral buruk, suka berfoya-foya, mabuk-mabukan, perempuan dan nyanyian, yang menyebabkan keruntuhan dinasti Bani Umayyah.
5.
Munculnya
gerakan oposisi baru yang dipelopori oleh Abbas bin Abdul Muthalib yang
mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim, Syiah, dan mawali yang merasa
dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah, yang kemudian menjadi cikal bakal
terbentuknya peradaban baru, Dinasti Abbasiyah.
Akhirnya pada tahun 750
M, Dinasti Bani Umayyah digulingkan oleh Bani Abbas yang telah menyusun
kekuatan baru. Marwan bin Muhammad Khalifah terakhir Bani Umayyah melarikan
diri ke Mesir, kemudian ditangkap dan dibunuh di sana. Maka berakhirlah
kekuasaan Bani Umayyah yang berlangsung selama kurang lebih 90 tahun.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Peradaban Islam pada masa Bani
Umayyah menunjukkan kemajuan yang sangat pesat dalam berbagai bidang, baik
politik, sosial, ekonomi, maupun ilmu pengetahuan. Pada masa ini, pemerintahan
bertransformasi dari sistem kekhalifahan yang sederhana menjadi bentuk monarki
herediter yang lebih teratur dan terpusat. Selain itu, perkembangan ilmu
pengetahuan, seni arsitektur, dan budaya Islam mencapai puncaknya, terutama
dengan berdirinya pusat-pusat ilmu di Damaskus dan Andalusia. Keberhasilan Bani
Umayyah dalam memperluas wilayah Islam hingga ke Spanyol dan India juga
menunjukkan kekuatan politik dan militer yang luar biasa serta kemampuan mereka
dalam mengelola wilayah yang sangat luas dan beragam.
3.2 Saran
Sebagai mahasiswa, penting bagi
kita untuk menjadikan masa kejayaan Bani Umayyah sebagai sumber inspirasi dalam
mengembangkan semangat keilmuan dan kepemimpinan. Nilai-nilai seperti kerja
keras, inovasi, dan toleransi yang menjadi ciri khas peradaban Islam pada masa
itu dapat dijadikan teladan dalam kehidupan akademik dan sosial saat ini.
Selain itu, perlu adanya upaya lebih dalam memahami sejarah Islam bukan hanya
dari sisi politik, tetapi juga kontribusi intelektualnya terhadap kemajuan
dunia. Dengan demikian, kita dapat meneladani semangat kemajuan peradaban Islam
masa lalu untuk membangun peradaban modern yang berlandaskan ilmu dan akhlak.
DAFTAR PUSTAKA
Adnan, I. M., & Haramaini, S.
(2025). Kontribusi Daulah Umayyah terhadap Perkembangan Pendidikan dan
Peradaban Islam. IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam, 3(4),
1076-1091.
Anwar, A.
M. (2015). Pertumbuhan
dan perkembangan pendidikan
Islam pada masa Bani Umayyah.
Tarbiya: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, 1(1), 47–76.
Fauzi, M., & Jannah, S. A.
(2021). Peradaban Islam; Kejayaan Dan Kemundurannya. Al-Ibrah: Jurnal
Pendidikan Dan Keilmuan Islam, 6(2), 1-26.
Fuad, A. Z. (2014). Sejarah
Peradaban Islam.
Pulungan, H. S. (2022). Sejarah
Peradaban Islam. Amzah.