Kamis, 06 November 2025

MAKALAH PERADABAN ISLAM PADA MASA DAULAH BANI UMAYAH

 

MAKALAH

 

PERADABAN ISLAM PADA MASA DAULAH BANI UMAYAH

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam

Dosen Pengampu:

 

SYARKAINI, S.H., M.E.

 

 

 

 

DISUSUN OLEH

 

KELOMPOK 2

 

1. Syafa Elmania Rahmadani

(0101.25.0039)

2. Putri Nurhasanah

(0101.25.0050)

3. Uswatun Nisa

(0101.25.0019)

4. Saskia Kurnia Fathonah

(0101.25.0031)

5. Yoga Pratama

(0101.25.0021)

 

 

 

FAKULTAS TARBIYAH DAN TAMADDUN MELAYU

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM

TAFAQQUH FIDDIN

DUMAI

2025




KATA PENGANTAR 

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Peradaban Islam pada Masa Daulah Bani Umayyah” dengan baik dan tepat waktu. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta para pengikutnya hingga akhir zaman.

Makalah ini disusun sebagai salah satu bentuk upaya untuk memahami lebih dalam mengenai perkembangan peradaban Islam pada masa Daulah Bani Umayyah, yang dikenal sebagai salah satu periode penting dalam sejarah Islam. Pada masa inilah Islam mengalami kemajuan pesat dalam berbagai bidang, baik politik, sosial, ekonomi, maupun kebudayaan. Oleh karena itu, pembahasan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kontribusi Daulah Bani Umayyah terhadap perkembangan dunia Islam

Dalam penyusunan makalah ini, penulis berusaha mengumpulkan berbagai sumber yang relevan agar pembahasan dapat tersusun secara sistematis dan ilmiah. Meskipun demikian, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi isi maupun penyajiannya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan demi penyempurnaan karya tulis ini di masa yang akan datang.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan selama proses penyusunan makalah ini,akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun pembaca dalam memperluas wawasan tentang sejarah dan peradaban Islam, khususnya pada masa Daulah Bani Umayyah. Semoga segala usaha yang dilakukan menjadi amal baik yang diridhai oleh Allah SWT.

 

Dumai, 05 November 2025

 

 

Kelompok 2


DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB 1. PENDAHULUAN                                           

1.1. Latar Belakang Masalah

1.2. Tujuan

1.3. Rumusan Masalah

BAB II. PEMBAHASAN

2.1. Sejarah Berdirinya Daulah Bani Umayah

2.2. Khalifah yang Memimpin Pada Masa Daulah Bani Umayah

2.3. Kemajuan yang dicapai Pada Masa pemerintahan Daulah Bani Umayah

2.4. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kemunduran Daulah Bani Umayah

BAB III. PENUTUP

3.1. Kesimpulan

3.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Sejarah peradaban Islam merupakan perjalanan panjang yang penuh dengan dinamika politik, sosial, dan keagamaan. Setelah wafatnya Rasulullah SAW, umat Islam dipimpin oleh para Khulafaur Rasyidin yang menegakkan pemerintahan berdasarkan prinsip musyawarah dan keadilan. Namun seiring berkembangnya wilayah Islam yang semakin luas, muncul kebutuhan untuk membentuk sistem pemerintahan yang lebih terorganisir dan mampu mengatur kekuasaan secara efektif. Dari sinilah muncul Daulah Bani Umayah, yang menjadi salah satu dinasti besar dalam sejarah Islam.

Daulah Bani Umayah didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan pada tahun 661 Masehi setelah berakhirnya masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dinasti ini menjadikan Damaskus sebagai pusat pemerintahan dan memperkenalkan sistem monarki turun-temurun dalam kekuasaan Islam. Perubahan sistem ini membawa dampak besar terhadap tatanan politik dan sosial masyarakat Muslim. Pemerintahan Bani Umayah dikenal kuat dan stabil, sehingga mampu memperluas wilayah Islam hingga mencapai Spanyol di barat dan India di timur.

Pada masa ini pula, peradaban Islam mengalami kemajuan pesat di berbagai bidang. Ilmu pengetahuan, arsitektur, administrasi, dan kebudayaan tumbuh dengan pesat di bawah perlindungan para khalifah. Banyak ilmuwan dan cendekiawan muncul pada masa ini, dan nilai-nilai Islam mulai berinteraksi dengan kebudayaan lain seperti Persia, Romawi, dan Yunani. Hal ini menjadikan Daulah Bani Umayah sebagai fondasi penting bagi perkembangan peradaban Islam di masa-masa selanjutnya.

Namun, di balik kejayaan tersebut, Daulah Bani Umayah juga menghadapi berbagai tantangan dan konflik internal. Perbedaan pandangan politik, ketegangan antara kelompok Arab dan non-Arab (mawali), serta pertikaian dalam suksesi kepemimpinan menjadi penyebab utama munculnya instabilitas. Situasi ini secara perlahan melemahkan kekuasaan Bani Umayah dan membuka jalan bagi berdirinya Daulah Abbasiyah.

Melihat perjalanan panjang Daulah Bani Umayah, penting bagi mahasiswa dan umat Islam untuk memahami sejarahnya secara mendalam. Dengan mempelajari proses berdiri, kepemimpinan, kemajuan, serta faktor kemundurannya, kita dapat mengambil pelajaran berharga tentang bagaimana peradaban Islam berkembang dan menghadapi tantangan zaman. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas secara ringkas namun menyeluruh mengenai sejarah peradaban Islam pada masa Daulah Bani Umayah.

1.2. Rumusan Masalah

a.     Bagaimana sejarah berdirinya Daulah Bani Umayah?

b.     Siapa saja khalifah yang memimpin pada masa Daulah Bani Umayah?

c.     Bagaimana kemajuan yang dicapai pada masa pemerintahan Daulah Bani Umayah?

d.     Apa faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran Daulah Bani Umayah?

1.3. Tujuan Penulisan

a.     Mengetahui sejarah berdirinya Daulah Bani Umayah.

b.     Mengenal para khalifah yang memimpin pada masa Daulah Bani Umayah.

c.     Mempelajari berbagai kemajuan yang dicapai selama masa pemerintahan Bani Umayah.

d.     Memahami faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dan runtuhnya Daulah Bani Umayah.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Sejarah Berdirinya Bani Umayah.

Nama Dinasti Bani Umayah diambil dari Umayah bin Abd AlSyam, kakek Abu Sufyan. Umayah segenerasi dengan Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad Saw dan Ali bin Abi Thalib. Dengan demikian, Ali bin Abi Thalib segenerasi pula dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Ali bin Abi Thalib berasal dari keturunan Bani Hasyim sedangkan Mu’awiyah berasal dari keturunan Bani Umayah. Kedua keturunan ini merupakan orang-orang yang berpengaruh dalam suku Quraisy. Cikal bakal berdirinya dinasti Umayyah dimulai ketika masa khalifah Ali. Pada saat itu Mu’awiyah yang menjabat sebagai gubernur di Damaskus yang juga masih kerabat Utsman menuntut atas kematian Ustman. Dengan taktik dan kecerdikannya, ia mempermainkan emosi umat islam. mu’awiyah tidak mau menghormati ali, dan menyudutkannya pada sebuah dilema: menyerahkan para pembunuh Utsman, atau menerima status sebagi orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu, sehingga ia harus diturunkan dari jabatan khalifah. Dari perselisihan tersebut terjadilah peperangan antara Ali dan Mu’awiyah. Peperangan tersebut dikenal sebagai perang Siffin, karena terjadi di daerah bernama Siffin. Dalam pertempuran itu hampir-hampir pasukan Muawiyyah dikalahkan pasukan Ali, tapi berkat siasat penasehat Muawiyyah yaitu Amr bin 'Ash, agar pasukannya mengangkat mushaf-mushaf Al Qur'an di ujung lembing mereka, pertanda seruan untuk damai dan melakukan perdamaian (tahkim) dengan pihak Ali dengan strategi politik yang sangat menguntungkan Mu’awiyah.

Bukan saja perang itu berakhir dengan Tahkim Shiffin yang tidak menguntungkan Ali, tapi akibat itu pula kubu Ali sendiri menjadi terpecah dua yaitu yang tetap setia kepada Ali disebut Syiah dan yang keluar disebut Khawarij. Sejak peristiwa itu, Ali tidak lagi menggerakkan pasukannya untuk menundukkan Muawiyyah tapi menggempur habis orang-orang Khawarij, yang terakhir terjadi peristiwa Nahrawan pada 09 Shafar 38 H, dimana dari 1800 orang Khawarij hanya 8 orang yang selamat jiwanya sehingga dari delapan orang itu menyebar ke Amman, Kannan, Yaman, Sajisman dan ke Jazirah Arab. Pada Ali terbunuh oleh seorang anggota khawarij. Kedudukan Ali sebagai khalifah kemudian dijabat oleh anaknya Hasan selama beberapa bulan. Namun, karena Hasan ternyata lemah, sementara Mu’awiyah semakin kuat, maka Hasan membuat perjanjian damai. Perjanjian ini dapat mempersatukan umat islam Kembali dalam satu kepemimpinan politik, di bawah Mu’awiyah ibn Sufyan. Dengan meninggalnya ali(661), pemerintahan yang dapat kita sebut sebagai periode ke khalifahan republic-dimulai sejak ke khalifahan abu Bakar (623)-telah berakhir. Empat khalifah pada masa ini dikenal oleh para sejarawan Arab sebagai alRasyidin. Pendiri khalifah kedua, Mua’awiyah dari keluarga Umayyah, menunjuk putranya sendiri, Yazid, sebagai penerusnya sehingga ia menjadi seorang pendiri sebuah dinasti. Dengan demikian, konsep pewarisan kekuasaan mulai diperkenalkan dalam suksesi kekhalifahan, dan sejak itu tidak pernah sepenuhnya ditinggalkan. Kekhalifahan Umayyah adalah dinasti (Mulk) pertama dalam sejarah islam.

2.2. Khalifah yang Memimpin Pada Masa Daulah Bani Daulah Umayah

Dalam rentang waktu pemerintahan sekitar 90 tahun, pemerintahan dinasti bani umayah yang menganut system monarki,terus berkembang dibawah pemerintahan raja raja yang berasal dari garis keturunan umayah bin Abd syams.

Berikut nama-nama ke 14 khalifah Dinasti Bani Umayyah yang berkuasa:

1. Muawiyah bin Abi Sufyan (41-60 H/661-680 M)

2. Yazid bin Muawiyah (60-64 H/680-683 M)

3. Muawiyah bin Yazid (64-65 H/683-684 M)

4. Marwan bin Hakam (65-66 H/684-685 M)

5. Abdul Malik bin Marwan (66-86 H/685-705 M)

6. Walid bin Abdul Malik (86-97 H/705-715 M)

7. Sulaiman bin Abdul Malik (97-99 H/715-717 M)

8. Umar bin Abdul Aziz (99-101 H/717-720 M)

9. Yazid bin Abdul Malik (101-105 H/720-724)

10. Hisyam bin Abdul Malik (105- 125 H/724-743 M)

11. Walid bin Yazid (125-126 H/743-744 M)

12. Yazid bin Walid (126-127 H/744-745 M)

13. Ibrahim bin Walid (127-127 H/745-745 M)

14. Marwan bin Muhammad (127-132 H/745-750 M)

Dari empat belas khalifah Bani Umayyah, dengan berbagai tipikal kepemimpinan masing-masing khalifah, telah berhasil mengantarkan Islam mencapai puncak peradabannya, namun ada beberapa khallifah yang memiliki peran cukup besar dalam catatan para ahli sejarah.

2.3. Kemajuan yang dicapai Pada Masa Daulah Bani Umayah

Sebagaimana yang telah diuraikan ditas pada zaman Dinasti Bani Umayyah, kerajaan Islam mencapai perluasan yang terbesar, merentang dari pantai-pantai lautan Atlantik dan pegunungan Pyrenia hingga sungai Indus dan perbatasan Cina, seluas hamparan yang sulit ditemukan bandingannya pada zaman dahulu dan yang tersusul pada masa kini hanya oleh kerajaan Inggris dan Rusia.

      Keberhasilan Dinasti Bani Umayyah ini bukan hanya di bidang perluasan kekuasaan Islam tetapi juga membawa Intonasi-intonasi di bidang politik, ekonomi, kebudayaan dan lain-lain sehingga terbukti dengan keberhasilannya dalam membangun Imperium sekaligus menempatkan dirinya sebagaI negara adil kuasa pada masanya.

a.     Bidang Administrasi Pemerintahan                                                             

      Pada masa Khulafa al-Rasyidin pemerintahan dapat dikatakan pemerintahan       yang bersifat demokratis, sedangkan pada masa dinasti Bani Umayyah sifat demokratis tidak kelihatan lagi. Selanjutnya pada masa khulafa al-Rasyidin seperti yang dikatakan sejarawan, bahwa belum terpisah antara urusan agama dengan urusan pemerintahan.

Pada masa Dinasti Bani Umayyah mengalami penafsiran baru. Hal ini dapat dipahami karena kebanyakan Khalifah Bani Umayyah bukan orang ahli dalam soal-soal agama walaupun ada beberapa orang khalifah yang ahli soal agama tetepi masih merujuk dengan sistem yang telah dilaksanakan oleh khalifah yang pertama Mu’awiyah. Maka itu masalah keagamaan diserahkan kepada ulama yang terdiri dari Qadhi atau Hakim. Pada umumnya para Qadhi atau Hakim tersebut al-Qur’an dan Hadis Nabi sebagai Sejak Mu’awiyah menunjuk anaknya sebagai penggantinya menjadi khalifah maka lahirlah bentuk kerajaan dalam Islam yang seterusnya berlanjut pada khalifah-khalifah selanjutnya.

Kemudian dalam hal administrasi pemerintahan dibentuklah beberapa Diwan (depertemen) yang terdiri dari antara lain:

a). Diwan Rasail: berfungsi mengurus surat-surat negara, Diwan ini ada dua macam (1) Sekretariat negara pusat (2) Sekretariat provinsi.

b). Diwan al-Kharaj: Diwan ini bertugas mengurus pajak. Diwan ini dibentuk tiap propinsi yang dikepalai oleh Shahib al-Kharaj.

c). Diwan al-Barid: Diwan ini merupakan badan intelijen yang bertugas sebagai penyampai rahasia daerah pada pemerintahan pusat.

d). Diwan al-Khatam. Mu’awiyah merupakan orang perama yang mendirikan Diwan Khatam ini sebagai departemen pencatatan. Setiap peraturan yang dikeluarkan khalifah harus disalin dalamsuatu register, kemudian yang asli harus di segel dan dikirim ke alamat yang dituju.

b. Bidang Ekonomi

Berbicara tentang kondisi ekonomi pada masa Dinasti Bani Umayyah, keberadaan Baitul Mal merupakan bukti adanya perkembangan ekonomi pada masa itu. Eksistensi Baitul mal pada masa Dinasti Bani Umayyah sangat berperan sekali di sebabkan penaklukkan yang di lakukan sangat luas sekali, ke Barat sampai ke Afrika Utara Andalusia dan ke timur sampai ke India dan ke perbatasan Cina. Daerah yang ditaklukkan ini terkenal dengan kekayaan dan kesuburan tanahnya. Khalifah dan para pejabat Negara serta militer waktu itu banyak memperoleh harta rampasan perang dan tanah-tanah yang subur dari tuan-tuan tanah besar Bizantium yang telah melarikan diri bersama tentara kerajaan yang telah dilumpuhkan. Pemerintahan memperoleh pajak-pajak dari daerah-daerah yang ditaklukkan tersebut.

Pemasukan keuangan negara berupa Kharaj, Jizyah, Usyur zakat dan lainnya. Ada tanah diolah dengan memakai tenaga buruh dari para petani, ini termasuk sumber pemasukkan pokok keuangan negara. Sistem sewa (leases) ini ditirukan dari sistem emphyteusis dari Bizantium. Sistem ini dikenal dengan sebutan qatasi dan sawafi. Cara pengelolahan sewa tanah ini diserahkan pada diwan sawafi yang telah dibentuk pada masa Bani Umayyah ini. Jumlah sawafi dan qatasi ini berkembang cepat, kemudian hak sewa tersebut dijual kepada para famili penguasa saat itu, oleh karena itu lahirlah para borjuis yang Islami atau orang kaya Islam baru.

Perkembangan ini dapat mempengaruhi investasi pemasukannegara yang berkembang dari pertanian kepada perdagangan, kondisi seperti ini akan berpengaruh besar dalam perekonomian rakyat dan negara. Pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan dicetak uang sebagai alat tukar yang dibuat dari emas dan perak, serta dihiasi dengan khat ayat Al-Qur’an. Mata uang ini berbeda dengan kerajaan Bizantium ataupun dirham kerajaan Persi. Percetakan uang kembali sebagai ciri khas bagi khalifah bani Umayyah pada masa pemerintahan Abdul Malik ini menunjukkan banyaknya orang kaya melimpah ruah di kota-kota bahkan di padang pasir.

Melihat kondisi perekonomian yang demikian dapat dikatakan, bahwa perekonomian pada saat itu sangat baik dan maju. Hal seperti dikatakan oleh Philip K. Hitti sebagai berikut: “Suatu kenyataan yang dapat dikatakan bahwa suasana dan corak umum dari kehidupan kota Damsik dalam abad kedelapan, tidak banyak berbeda dengan kehidupan yang didapati sekarang, dapat dilihat seseorang penduduk Damsik yang berpakaian celana yang longgar, sepatu merah yang lancip dan serban yang besar, yang berjalan di lorong-lorong yang sempit dan tertutup dari atas, di sana sini dapat dilihat seseorang penduduk yang menunggangi kuda, berpakaian sutera putih yang bernam “aba” dan bersenjatakan pedang dan tombak. Para penjual limun dan jaudah-jaudah bersitegang urat leher untuk menyaingi hingar yang disebabkan orang-orang berlalu lalang dan keledai unta yang membawa muatan berbagai hasil gurun pasir dan tanah-tanah subur. Nama Ahallah (Bani) Umayyah tersebut mengadakan suatu sistem pembagian air dalam kota Damsik, yang pada zaman it tidak mempunyai bandingan di dunia Timur yang kini masih terpakai. Dengan gambaran yang diberikan di atas, kita tahu begitu besarnya kemajuan di bidang ekonomi masa Bani Umayyah yang menjadikan Islam sebagai kekuatan adi daya di masa itu.

c. Bidang Politik Kenegaraan  

Realitas sejarah mengatakan bahwa selama 91 tahun kekuasaan Bani Umayyah telah memantapkan kedudukan Negara Islam sebagai Negara adikuasa yang merupakan “pelanjut” dari kekuasaan nabi Muhammad dan Khulafaur Rosyidin. Bentuk dasar Negara Islam tidak disangsikan telah ditetapkan oleh Umar, yang membangunnya di atas pondasi yang diletakkan Muhammad, tetapi sebagian strukturnya masih diciptakan dan dikembangkan dan ini telah berlangsung di bawah pemerintahan Dinasti Umayyah.

Sedangkan peristiwa paling penting dalam bidang politik kenegaraan yang terjadi pada masa pemerintahan Bani Umayyah yang merupakan titik pangkal kemajuan selanjutnya adalah peristiwa yang dikenal dengan “Tahun Persatuan Umat Islam” (‘Amul Jama’ah). ‘Amul jama’ah adalah bersatunya umat Islam kepada kekuasaan Mu’awiyah, sehingga peristiwa ini merupakan pembuka jalan untuk menyusun kekuasaan baru umat Islam setelah terjadi perpecahan antara Ali dan Mu’awiyah. Dan pada saat inilah Mu’awiyah dipercaya umat Islam secara mayoritas) untuk menyebarkan Islam ke penjuru dunia. Dengan peristiwa ini, maka Mu’awiyah berhasil mengkosolidasikan situasi dalam negeri dan setelah berhasil di dalam negeri, maka segera berusaha mengadakan ekspansi dan perluasan wilayah.

d. Ilmu Pengetahuan

Pengetahuan yang berkembang pada masa daulah Umayyah ini adalah ilmu-ilmu agama ( nagliyah ), seperti ilmu qira'at, ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu bahasa ilmu kalam ilmu tasawuf dan ilmu arsitektur.

·       Ilmu Tahsin

pada masa awal Islam ilmu tafsir belum dibutuhkan karena umat Islam dapat mengerti apa yang dimaksud oleh setiap ayat Alquran namun ketika wilayah Islam sudah meluas dan orang-orang bukan Arab telah menganut agama Islam mulai dirasakannya pedoman berdasarkan Alquran. beberapa orang sahabat seperti Ali bin Abi Tholib Abdullah bin Abbas Abdullah bin ma'ut Ubay bin Khattab menafsirkan Alquran sesuai dengan apa yang mereka dengar dari nabi.

mereka ini dipandang sebagai pendiri ilmu tafsir. untuk tafsir Alquran pada awal Islam dikenal dengan tafsir di Al Mansur yaitu menafsirkan Alquran didasarkan pada yang mereka dengar dari nabi dan sahabat-sahabat senior atau dikenal dengan tafsir bi alriyah yaitu menafsirkan ayat Alquran berdasarkan pada riwayat. tafsir ini mengalami perkembangan di masa daulah Abbasiyah, tafsir tafsir telah tersusun secara sistematis menurut urutan ayat.

·        Ilmu Hadits

hadis sebagai sumber kedua ajaran Islam pada mulanya belum ditulis seperti Alquran karena dikawatirkan bercampur bahwa dengan Alquran. karena itu nabi melarang menulis sesuatu darinya selain Alquran. pemeliharaan hadis oleh para sahabat dilakukan melalui hafalan pembukaan hadis untuk pertama kali dilakukan oleh Khalifah Umar bin abd al- Aziz di awal abad ke-2 Hijrah. dalam mengumpulkan hadis dan para penghafal hadits diadakan suatu metode yang disebut Isnad yaitu membahas persambungan hadits. selain itu digunakan pula metode al- Jarh wa al- ta'dil yang membahas asal usul penghafal hadits.

·       Ilmu fiqih

fiqih belum dikenal sebagai ilmu pada awal Islam karena pada waktu itu semua persoalan yang dihadapi kaum muslimin dapat dinyatakan langsung kepada nabi. tetapi setelah rasulullah wafat sementara daerah kekuasaan Islam semakin luas dan problem yang dihadapi umat semakin banyak memaksa kaum muslimin menggali hukum-hukum dari ayat-ayat Alquran dan hadis dengan berijtihad untuk mendapatkan hukumannya.

·       Ilmu kalam

Di antara tokoh-tokoh ulama ilmu kalam adalah washil bin Atha, Abu huzail Al jubai, dan Al Najm dari kelompok mu'tazilah. Hasan Abu Hasan Al asyra'i dan hujjah assalam Iman Ghazali dari kelompok Sunni

·       Ilmu Tasawuf

Di antara tokoh-tokoh yang terkenal dalam ilmu tasawuf ini adalah Hasan Basri rabiah Al adawiyah, Abu Yazid Al Bustami dan Jalaludin Al Rumi. sementara ilmu umum seperti ilmuwan filsafat ilmu pasti ilmu astronom musik kedokteran kimia dan lain-lain baru berkembang pesat bersama dengan ilmu aqliyah di masa daulah Abbasiyah.

e. Sains dan Peradaban

Pada masa Dinasti Bani Umayyah merupakan benih yang ditebarkan atas pohon ilmu dan peradaban Islam, tetapi ia berbunga dan berbuah pada masa Daulah Abasiyyah. Pada masa Dinasti Bani Umayyah umumnya mempunyai perkumpulan kultur yang berbeda dari daerah yang ditaklukkan dan dikuasai, kemudian beragama kultur tersebut mempengaruhi kultur Islam pada bagian terbesar abad XIV sejarah Islam, menjadi bukti sepanjang periode Daulah Bani Umayyah Umat Islam telah menyadari elemn-elemn yang bermanfaat dan sehat dari kultur yang bersumber dari Persia, Yunani dan Siria, ditambah dengan daerah-daerah besar pada saat itu yang telah ditaklukkan.

Sumber kultur Islam dan kemajuan materil yang sesungguhnya adalah pada masa Dinasti Bani Umayyah dengan cara menekuni dengan asyik akan ilmu-ilmu agama, Lexikografi (menyusun kamus MJI), paramasastra dan penulisan sejarah menjadi titik tumpuan babak-babak intelektual pada masa sesudahnya. Di antara Ilmu Pengetahuan yang bukan ilmu keagamaan juga dikembangkan seperti ilmu pengobatan, ilmu hisab dan sebagainya mereka mengususkan menterjemahkan buku-buku yang berbahasa latin yang berkembang dari Yunani diterjemahkan dalam Bahasa Arab.

Babak lain yang penting dalam periode ini adalah mengalihkan bahasa catatan dari bahasa latin ke dalam bahasa Arab di Damsyik dari bahasa pahlawi ke dalam bahasa Arab, termasuk juga pencetakan uang bertulisan Arab. Hal ini seakan terlihat sebagai Arabisasi, tetapi dari satu sisi ini dapat mempengaruhi perkembangan peradaban Umat Islam Masa Dinasti bani Umayyahtersebut. Sedangkan aspek material kehidupan industri memperolehrangsangan yang kuat sepanjang Dinasti Bani Umayyah dan terjadi hubungan antara Umat Islam ke Timur dank ke Barat.

Kemajuan yang dimiliki oleh Dinasti Bani Umayyah dipengaruhi penaklukan-penaklukan daerah yang penuh kultur, daerah yang subur sehingga membawa dampak positif kemajuan di bidang pemerintahan dan administrasi, ekonomi dan perdaban Dinasti Bani Umayyah.

Pembangunan sains dan peradaban ini banyak mengaloborasi dari daerah-daerah yang ditaklukannya, terutama dua Negara besar, bizantium (395 – 1453) dan Persia (549 SM – 641 M), berikut ini gambaran kedua Negara besar tersebut:

1.     Bizantium (395 – 1453 M)

Negara Bizantium sejak berdirinya dikembangkan oleh kjaisrakaisarnya yang bikjasana dan perkasa. Setelah Negara Romawi Barat runtuh, Bizantium dapat menguasai sebagian besar daerah bekas romawi barat sehingga Bizantium menjadi Negara yang besar dan adikuasa. Hanya negara Persia lah yang dapat menyainginya. Puncak kejayaan Bizantium adalah pada masa kaisar Yustiniaus (527 -565 M).Ia bercita-cita hendak menghidupkan kembali kebesaran Romawi lama.

Untuk wewujutkan cita-cita itu,ia melakukan penahlukan - penahlukan kebeberapa Negara yang subur dan setrategis seperti Italia, Afrika, utara, Etoipia,syam,Palestina, Antiokia, dan Asia kecil. Di daerah –daerah jajahan tersebut dikembangkan pertanian, pertukangan dan bermacam – macam perusahaan dan hasilnya dibawa ke Kostatinopel, dikeluarkan juga ketentuan – ketentuan yang berhubungan dengan hokum, gereja dan istana. Setalah penakhlukan di wilayah barat, ia beralih ke Persia di sebelah timur. Oleh karena itu terjadilah peperangan yang berkepanjangan dengan Negara Persia.

2.     Persia (549 – 651 M)

Wilayah Negara Persia meliputi wilayah yang terbentang dari sungai Dajlah (Trgris) di sebelah barat sampai sungai Sing (Indus) di sebelah timur. Daerah ini merupakan suatu daratan tinggi yang dikelilingi pegunungan Kaukakus dan Elbuz di sebelah utara, Hindukush di timur laut Kishar di sebelah tenggara, dan Kurdistan di sebelah Barat laut. Ada beberapa dinasti dalam Negara Persia, namun yang berhadapan dengan Negara Islam adalah dinasti Sasanid (226 – 641 M). kekaisaran Sasanid inilah merupakan adikuasa yang berdiri di samping Bizantium. Yang paling domiinan di persi adalah bidang militer. Dalam bidang ini sudah dibentuk suat dewan (parlemen) khusus. Dengan cara ini terbentuklah tentara-tentara yang terdidik dan terlatih secara disiplin, yang siap melakukan tugas kapanpun. Dengan kekuatan yang demikian dilakukan penyerangan ke daerah kekuasaan Bizantium pada tahun 541, yakni terhadap daerah-daerah Syiria, Anthokia, dan Asia kecil.Namun ekspansi Persia tersebut dapat ditahan oleh Bizantium. Peperangan ini terjadi selama 20 tahun (541-561) untuk merebut daerah setrategis dan potensial.

Dari sisi perekonomian, Persia juga sangat diperhatikan oleh para kaisar. Sistem perpajakan diatur dengan baik, demikian juga perbaikan sarana-sarananya seperti jalan dan lain-lainnya. Dengan demikian Negara Persia di samping mempunyai wilayah yang sagat luas, juga mempunyai tatanan ekonomi yang maju dan kekuatan militer yang hebat. Dari kedua Negara inilah Islam banyak mengambil peradaban, pengetahuan bahkan ilmu pemerintahan bahkan ilmu pemerintahan yang terkait dengan pembangunan Negara.

2.4 Faktor Faktor yang Menyebabkan Kemunduran Daulah Bani  Umayah

Ada beberapa faktor yang menyebabkan dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran, antara lain adalah:

1.     Sistem pergantian khalifah yang sebelumnya menggunakan asas dan sistem musyawarah, diganti menjadi sistem monarki atau kerajaan, membuat persaingan tidak sehat dalam memperebutkan tampuk kepemimpinan.

2.     Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah yang tidak terlepas dari konflik-konflik pada masa Ali. Menimbulkan oposisi dari golongan Syiah dan Khawarij yang terus menerus merongrong kekuasaan Bani Umayyah. 

3.     Adanya pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, semakin meruncing, sebagian besar golongan mawali (non Arab) terutama di Irak tidak setuju dengan status mawali yang menggambarkan suatu inferioritas. perselisihan ini mendahului kejatuhan dinasti ini dan dampaknya mulai dirasakan pada tahun-tahun berikutnya di berbagai tempat yang berbeda.14

4.      Lemahnya pemerintahan Bani Umayyah disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana. Setelah kekhalifahan Hisyam yang mencapai puncak kesuksesan khilafah Bani Umayyah, khalifah penerusnya adalah penguasapenguasa yang bermoral buruk, suka berfoya-foya, mabuk-mabukan, perempuan dan nyanyian, yang menyebabkan keruntuhan dinasti Bani Umayyah. 

5.     Munculnya gerakan oposisi baru yang dipelopori oleh Abbas bin Abdul Muthalib yang mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim, Syiah, dan mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah, yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya peradaban baru, Dinasti Abbasiyah.

Akhirnya pada tahun 750 M, Dinasti Bani Umayyah digulingkan oleh Bani Abbas yang telah menyusun kekuatan baru. Marwan bin Muhammad Khalifah terakhir Bani Umayyah melarikan diri ke Mesir, kemudian ditangkap dan dibunuh di sana. Maka berakhirlah kekuasaan Bani Umayyah yang berlangsung selama kurang lebih 90 tahun.

 


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Peradaban Islam pada masa Bani Umayyah menunjukkan kemajuan yang sangat pesat dalam berbagai bidang, baik politik, sosial, ekonomi, maupun ilmu pengetahuan. Pada masa ini, pemerintahan bertransformasi dari sistem kekhalifahan yang sederhana menjadi bentuk monarki herediter yang lebih teratur dan terpusat. Selain itu, perkembangan ilmu pengetahuan, seni arsitektur, dan budaya Islam mencapai puncaknya, terutama dengan berdirinya pusat-pusat ilmu di Damaskus dan Andalusia. Keberhasilan Bani Umayyah dalam memperluas wilayah Islam hingga ke Spanyol dan India juga menunjukkan kekuatan politik dan militer yang luar biasa serta kemampuan mereka dalam mengelola wilayah yang sangat luas dan beragam.

3.2 Saran

Sebagai mahasiswa, penting bagi kita untuk menjadikan masa kejayaan Bani Umayyah sebagai sumber inspirasi dalam mengembangkan semangat keilmuan dan kepemimpinan. Nilai-nilai seperti kerja keras, inovasi, dan toleransi yang menjadi ciri khas peradaban Islam pada masa itu dapat dijadikan teladan dalam kehidupan akademik dan sosial saat ini. Selain itu, perlu adanya upaya lebih dalam memahami sejarah Islam bukan hanya dari sisi politik, tetapi juga kontribusi intelektualnya terhadap kemajuan dunia. Dengan demikian, kita dapat meneladani semangat kemajuan peradaban Islam masa lalu untuk membangun peradaban modern yang berlandaskan ilmu dan akhlak.

 

DAFTAR PUSTAKA

Adnan, I. M., & Haramaini, S. (2025). Kontribusi Daulah Umayyah terhadap Perkembangan Pendidikan dan Peradaban Islam. IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam3(4), 1076-1091.

Anwar,  A.  M.  (2015).  Pertumbuhan  dan  perkembangan  pendidikan  Islam  pada masa Bani Umayyah. Tarbiya: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, 1(1), 47–76.

Fauzi, M., & Jannah, S. A. (2021). Peradaban Islam; Kejayaan Dan Kemundurannya. Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan Dan Keilmuan Islam, 6(2), 1-26.

Fuad, A. Z. (2014). Sejarah Peradaban Islam.

Pulungan, H. S. (2022). Sejarah Peradaban Islam. Amzah.

 

 

KEHIDUPAN SEHARI HARIKU ( حَيَاتِي الْيَوْمِيَّةُ )

حَيَاتِي الْيَوْمِيَّةُ أَسْتَيْقِظُ مِنَ النَّوْمِ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ صَبَاحًا، ثُمَّ أُصَلِّي الصُّبْحَ. بَعْدَ ذَلِكَ، أَسْتَحِم...